Selasa, 20 Januari 2009

Gelali pertamaku

Pernahkah kau memakannya kawan? Dulu, sewaktu aku masih kecil, hanya ada satu keceriaan yang kutunggu tunggu apabila hari itu tiba, manganan. Ya, saat manganan tiba, ada kuliner langka yang harusnya jangan dilewatkan. Namanya gelali, terbuat dari rendaman saripati gula merah lalu ditusuk lidi bambu bulat bulat sekepal terung lalapan yang bertabur kacang di setiap sisinya. kalian yang asli desa ini pasti tahu apa itu manganan, bagi yang belum tahu, baiklah, akan aku jelaskan, dulu konon kabarnya, seseorang bernama mbah gerit terkenal sangat sakti dan alim. Beliau adalah orang yang babad alas di desa ini, menebang pekatnya hutan, membuka pemukiman yang segera menarik orang orang untuk datang menghuninya.
Oleh karena beliau sangat bijak, dermawan, sampai sampai semua orang menganggapnya sebagai titisan dewa. Mbah gerit menjadi seorang guru bagi penduduk desa, namun dia adalah juga seorang pertapa biasa yang sangat sederhana. Dengan lelaku spiritualnya di bawah pokok beringin tua, beliau mengajarkan pentingnya dalam bertingkah laku sesuai norma, berpantang makanan yang haram, sampai urusan sosial kemasyarakatan. Dalam masa masa beliau menjalani tugasnya memangku desa purwosari ini, purwosari mencapai puncak kejayaan. Baik dalam tatanan sosial masyarakat, kemakmuran, keamanan dan kerukunan hidup terjaga. Istilahnya, gemah ripah loh jinawi. Semuanya hidup dalam ketenangan dan kesederhanaan. Sampai akhir hayatnya, jasa jasa beliau masih dikenang seluruh warga desa. Karena itulah, setiap tahun, sebagai wujud rasa terimakasih kepada ajaran beliau-tentunya selain penguasa tertinggi yaitu Tuhan- atas segala nikmat dan kelimpahan panen padi, warga se puak desa mengadakan ritual bersih desa yang akrab di sebut manganan (kegiatan me-makan). Waktunya, biasanya Jumat pon menurut penanggalan Jawa. Konon, hari itu adalah saat meninggalnya mbah gerit.
Saat selesai mengadakan ritual yang dipimpin oleh tetua, warga yang membawa nasi tumpeng beserta lauk pauknya didoakan, barulah warga desa dapat menikmati atau membagi bagikan berkat kepada sesama warga yang duduk mengelilingi berkat atau dalam istilahnya ngepung berkat. Dan pulang membawa berkat setelah terlebih dahulu ditukar dengan milik warga yang lain. Kalu ini, sifatnya adalah sukarela dan ikhlas, karena esensi manganan adalah memberi atau weweh.
Pesta belum berakhir, justru setelah itu, kira kira kemeriahan dimulai. Wayang yang telah di sewa atau ditanggap untuk menghibur warga dimulai saat selesai duhur, Biasanya, wayang yang ditanggap mengambil lakon lakon yang kerap di sukai mbah gerit semasa hidup. Konon pula, arwah mbah gerit di beringin tua yang diyakini adalah pesarean atau peristirahatannya turut melihatnya. Mungkin terbahak di kuburnya. Sebuah Kepercayaan yang turun temurun hingga saat ini.
Lazimnya pesta, setiap kemeriahan selalu menghadirkan interaksi sosial yang melibatkan banyak orang serta banyak uang yang berputar. Para penjual memanfaatkannya untuk menangguk rezeki. Bermacam macam penjual makanan seperti yang tradisional layaknya kusebut tadi, gelali, rujak, dan macam macam lagi sampai yang berbau ke kinian semacam jajan pasar, aneka mainan anak kecil berderet di kanan kiri arena yang disekat oleh pagar bambu yang dilabur gamping. Sementara yang muda asyik menikmati jajanan, golongan tua yang haus akan hiburan tradisional memilih duduk di sekitar terop, regeng gayeng dan serius menyimak wayang. Dan tertawa berderai derai saat babak goro goro (gurauan) berlangsung.
Dulu, semasa aku masih dipotong kuncung alias menyisakan sepetak rambut jambulku di depan, aku hanya tertarik pada satu hal, gelali. Buatku, menonton wayang adalah rutinitas tahunan yang menjemukan. Cenderung monoton karena bahasa yang disampaikan, bahasa jawa kawi, babonnya bahasa jawa dalam strata yang paling halus. Saat di depan, hanya beberapa menit saja mungkin aku bertahan. Kalu kupaksakan, ngantuk pastinya. Setelah itu, khasnya keceriaan anak kecil, pandanganku tertuju pada pada penjual mainan anak anak semacam sebulan (balon), kitiran dari kertas, berupa rupa lot lotan atau kacang tanah yang dijual perbungkus Cuma Rp 500. Sementara bagi yang haus, es setrup sumba merah bolehlah dicoba, manis namun jangan salahkan penjualnya jika perut melilit, karena biasanya air yang pakai, air mentah.
Beberapa temanku yang sudah agak besar memberanikan diri agak kebelakang layar. Rupa rupanya arena judi dadakan terhampar bak miniatur las vegas, orang hilir mudik mencoba peruntungannya dalam putaran erek erek (media judi yang berupa papan bundar berisi duabelas angka dengan jarum di titik pusat, biasanya bandar akan memutar poros setelah petaruh meletakkan koin ke dalam kertas angka berdigit satu sampai duabelas), judi dadu kopyok, Kartu remi juga tak kalah di semuti pengunjung. Kebanyakan memang para pemuda dan bapak bapak.
Aku berkeliling keliling dalam arena yang tak sebegitu luas itu, tangan kanan memegang gelali pertamaku, suatu sensasi aneh yang baru kutemui, penjualnya telah sebegitu kerepotan meladeni pembeli yang tertarik dengannya. Lengket sekali gelali itu, namun manis dilidah, saat kau gigit, mungkin kau akan meraskan kelembutan, kenikmatan tiada tara..coba deh...(bersambung)

Sekali malam di warung kopi tiga dara part 2

Malam di warung tiga dara, nita –salah satu dari pelayan warung-menyodori pesanan patenku, secangkir kopi tubruk. Pandanganku tertuju pada orang yang sama saat berbincang di malam gerimis itu. Kutepuk pundaknya pelan, menoleh lalu dia terpaku, seperti mengingat potongan potongan pembicaraanku dengannya beberapa hari yang lalu.

”aku nggak percaya ama Tuhan” katanya sambil menyeruput kopinya. ”Karena begini menurutku bergulirnya mitos tentang Tuhan itu,

Lanjutnya, ” Manusia manusia menisbahkan kata Tuhan pada apa pun yang misterius baginya. Dulu ia gunung gunung tertinggi, atau laut terdalam. Kemudian ia badai yang maha dahsyat, hingga kini, manusia sadar bahwa badai itu hanyalah perbedaan suhu dan tekanan udara antarwilayah”

”Penisbahan itu terus berlangsung sepanjang sejarah; hingga kini manusia berkata bahwa ’pokoknya ada sesuatu diatas sana’, tidak jelas apa tapi pokoknya ada!”. Seolah kini ia menjadi sekedar konsep saja dalam kepala mereka dinamai Tuhan, berdoa pun seperti berbicara dengan diri sendiri..”

Aku menyimak dengan serius..kuhisap dalam dalam rokok Pamor yang tinggal sepertiga itu. ”Mereka tidak dapat menerima, bahwa pada akhirnya, segalanya akan dapat dijelaskan. Tidak ada lagi yang dapat kita namai Tuhan.”

”Tidak ada lagi yang dapat kita namai Tuhan?”gumamku..sebuah pemilihan kata yang menarik. Mengapa kita harus menamai?”

Dia seolah bertanya tanya dalam hati, diam.

”Maksudku, cangkir ini dapat kunamai cangkir karena pikiranku dapat mengenali hal hal lain yang bukan cangkir. Saat kau bilang bahwa pada akhirnya segalanya non Tuhan, maka secara implisit kamu bilang bahwa ada sesuatu bernama Tuhan. Karena

-logika sederhana-haruskah ada kata tuhan jika segalanya Tuhan? Akankah ada yang dinamakan cangkir kopi jika seluruh alam semesta ini cangkir kopi?”

Beberapa waktu, hening. Beberapa teman akrabku datang dari depan, di pinggangnya, terjulur kain sarung yang di gulung, mungkin selesai ngaji di langgar.

Dia memecah keheningan, sudut matanya berkerut kerut, seolah sedang memikirkan semua pendapatku ”hehehe”...terkekeh sambil mengaduk cangkir kopinya.

” Dimana pertanyaan sesungguhnya, bukanlah apakah tuhan itu ada atau tidak, melainkan, siapakah yang sedang bertanya ini? Apa yang terjadi jika segala permainan keinginan ini berhenti? Apa yang ada dibalik penamaan cangkir dan non cangkir? Apa yang terjadi jika segala pemikiran ini diam, tidak berbicara, tidak memercayai atau menolak sesuatu?” sanggahku padanya.

Dia semakin tercekat, lalu, dia seperti menyusun kembali kepercayaan dirinya,” Hal yang terbaik dalam hidup adalah menjalani kebebasan” ia Menatapku,

” bagaimana kamu bisa hidup dalam aturan aturan agama?”

” okelah, memangnya, apa definisimu tentang kebebasan?” sergahku.

”Kebebasan adalah jika kamu dapat melakukan apapun yang kamu inginkan, kapanpun kamu mau, dimanapun kamu berada ”

” Oh, begitu? Lalu, apa yang kamu lakukan jika keinginanmu tidak terpenuhi? yang biasanya terjadi dalam hidup? Tanyaku lagi.

” Emmff, itu sungguh sungguh bangsat, tapi yaaa, biarlah..kita kan bisa mengejar hal hal lainnya lagi”

” terus begitu?” kejarku.

” Ya, terus begitu!”

” hemm, seperti terdengar berkejar kejaran tidak berujung. Kita tidak akan sepenuhnya bebas selama membutuhkan sesuatu, bukankah begitu?” sengatku.

” kamu seperti kiyai yang mengharamkan makan babi atau keinginan keinginan manusia, padahal gairah adalah bensin dalam hidup, dan tidak ada yang salah dengannya bukan?.”

” hehehe, iya juga sih cuii, kegiatan menginginkan adalah kegiatan yang menyenangkan, aku setuju, tapi membutuhkan sesuatu, tercekik olehnya, seolah sesuatu itu tidak kita miliki, atau dapat hilang sewaktu waktu –serta merasa dunia runtuh saat sesuatu itu akhirnya lepas tidak terlalu menyenangkan mendengarnya kan?” aku tertawa.

” Itulah susahnya menjadi seseorang, dapat memiliki dan kehilangan sesuatu ” ujarku kemudian. ” yang diajarkan agama agama itu sebenarnya agar kita memperluas diri sehingga jika kita memberi sesuatu kepada orang lain misalnya, kita tidak merasa kehilangan karena ” bagian diri kita yang lain alias orang lain mendapatkannya. Hidup pun menjadi lebih mudah, karena kita jadi sadar, bahwa sesuai kodrati, segala apa yang datang itu pasti akan pergi, segala sesuatunya, pasti akan datang dan pergi lagi..

Dia membalas, ” ya, ya, itu kan dari tataran filsafat dan kata katamu, tapi kamu pasti tahu benar yang kumaksud dari awal , bahwa sederhana, kita bisa bebas ngapain aja, yang jelas jelas tidak disetujui agama”

Aku menerobos celah matanya, berusaha mencari ke mana arah pembicaraannya.” kenapa kamu ’harus bebas ngapain aja?siapa yang pertamakali meletakkanmu..”

Dia memotongku dengan cepat, ” kamu tidak harus memeluk suatu agama jika tidak merasakan manfaatnya, tapi kamu juga tidak harus mati matian membela kebebasan, ide akan kebebasan juga sebuah penjara!”

”Sebagaimana juga agama!”

Sebagaimana juga agama? Hemm, okelah bos, tapi kini, tidak ada alasan untuk keluar dari satu penjara masuk ke penjara lainnya bukan?, sama saja artinya tidak ada alasan bagi kita untuk bertindak bodoh dengan mengumpankan diri pada saat dalam mulut buaya, lalu lepas kita masuk mulut singa lagi?”

” hahaha, baiklah” dia menggeleng geleng, ”aku tidak akan menjadi pembawa misi kebebasan jika kamu juga tidak menjadi pembawa misi agama” ungkapnya menyerah.

Cangkirku hampir kosong, begitu pula dengannya, seolah olah semuanya telah lunas. Beberapa kali ia menepuk nepuk pundakku untuk sesaat kemudian membayar kopinya pada nita, lalu hilang bersama deru asap knalpot motornya ke arah pertigaan tobo.

Sekali malam di Warung kopi tiga dara

Warung khas ini bernuansa hangat, dapat kalian jumpai di korgan utara, persis berjarak hanya beberapa rumah dari selatan pesarean mbah gerit. sederhana namun sarat keakraban. Tempat aku dan beberapa teman menghabiskan malam, menyusuri eksotisme malam. Aku berbincang dengan seseorang yang menghadapi secangkir kopi didepan teras menggelar tikar lusuh, dan rokok yang tak berhenti mengepul ngepul dari mulutnya...
Hal yang sama sepertinya aku rasakan saat mencoba segelas penuh wedang jahe, ”terasa seperti ada getaran halus nan hangat menjalar”, responku padanya.
Gerimis tiba tiba tumpah, dia sepertinya tergesa gesa ingin segera pulang. dia merapat pada dinding reyot..mengajakku berteduh Sambil menunggu hujan reda, perbincangan segera mengalir...dia mengajakku membahas kekuatan dongeng, mengikuti penuturannya tentang diri sendiri.
”Dongeng Dongeng memiliki kekuatan untuk mengantar manusia ke dimensi yang lebih tinggi” Jelasnya.
”Bahkan bisa dibilang, hanya dongeng atau metaforalah yang dapat melakukannya, karena dimensi tersebut seringkali sesuatu yang tak terdefinisikan.”
”Hmm” aku menggumam..
”Seperti warna, Bagaimana kamu dapat mendefinisikan warna biru pada seseorang?” lanjutnya. ”Atau jahe hangat tadi, hangat menjalari tenggorokanmu katamu, pengalaman kita sama. Seperti juga catatan catatan legenda seorang mbah gerit yang sering kalian dengar? Bagaimana kamu dapat menjelaskan sesuatu yang belum kalian atau tidak kalian alami pada waktu itu kepada orang yang kebetulan kamu temui di jalan tadi? Pengalaman itulah yang terdefinisikan berbeda tergantung pada budaya dan latar belakang orang, yang berusaha dilahirkan kembali, berusaha agar dapat terasa oleh orang orang melalui metafora”
”Itu mengingatkanku pada kisah seorang sufi, dia bilang ada dua jalan menuju hati. Satu, mencapainya dari ritual ritual luar. Kedua, mencapainya dulu, baru ekspresi luarnya pun akan selaras dengan sendirinya” aku menjawab.
”Ya, sayangnya jalan pertama sering kali menimbulkan masalah hingga hari ini. Ritual ritual itu mandek menjadi sebuah identitas, kebanggaan, dan sebagainya, sesuatu yang bisa dipertentangkan dan dikompetisikan dengan ritual ritual lain. Kita tidak lagi mementingkan apa yang dirasakan hati para utusan tersebut ketika melahirkan ayat ayat kitab suci itu, karena yang penting kini hanyalah jika kita bisa bergerak persis sama dengan mereka”
”Jadi, selama ini kamu tidak pernah sholat?” Ujarku.
”Aku tidak meninggalkan sholat, apalagi melupakan masjid, karena aku tak berniat meninggalkan pengalaman pengalaman yang aku rasakan ketika membaca Alqur’an. Aku masih membutuhkan spiritnya, tetapi aku meninggalkan pemaksaan interprestasi literal yang sama persis bagi semua orang terhadapnya. Karena jalan dan ekspresi pada Tuhan tentunya berjuta juta”
”Seperti aku menyatakan secangkir kopi sama dengan segelas wedang jahe padahal aku belum pernah sekalipun menenggak wadang jahe itu.”tambahnya.
”Sehingga kamu lebih menyodorkan jalan kedua?” selidikku.
”Tidak, hanya sebuah pilihan, apakah kita menangis dulu baru sedih, atau sedih dulu baru menangis?” Jawabnya mengakhiri perbincangan malam itu karena gerimis telah reda...

TITIK NOL


Ada dua ruangan di dunia ini” bunyi sebuah lelucon “ruangan yang pertama penuh kedamaian dan berkah; Ruang yang kedua penuh konflik dan pertengkaran. Ruangan pertama dihuni oleh Nabi Muhammad, Musa, Budha Gautama, Yesus Kristus,

Ruang kedua dihuni oleh pengikut pengikutnya..”

Aku bercakap cakap dengannya, saat cangkruk di depan kios rokok bung tomo, seorang perempuan muda yang selalu menunggu bis atau angkot setiap habis kebaktian di gereja pantekosta purwosari. Saban minggu, wajah cantiknya dari menit ke menit hilir mudik di emper toko perempatan tobo. Di tangannya terselip injil.

”Dapatkah kamu mengajariku doa doamu? ” Tanyanya dalam sorot mata yang damai.

”yang mana?”

”Yang manapun kau rasakan sekarang...”

”Hmm..ada satu surat yang berulang ulang dalam setiap doa kami. Pembuka Alqur’an Al fatihah. Mau versi bahasa arabnya atau inggrisnya?”

” Inggris sajalah..”

Di tengah kerumunan orang orang yang mengangkut berkarung karung beras, klakson mobil yang dipencet serampangan, aneka polah tingkah ojek menawarkan jasanya......

” In the name of God, the most compassionate, the most living. Praise be to be a god, the lord of the universe. The most compassionate, the Most loving, Lord the end of the days”

“ The end of the days, apakah sama dengan yang kami yakini?”

‘ Ya, akhir dari waktu, saat kita semua “kembali”

Gadis itu tersenyum, memandang aspal di bawah kami seolah sedang berdoa.

” Lord that ways grants his servant’s wishes. Grand us..Shiratal Mustaqim”

‘ Shiratal?”

“ aku selalu susah menerjemahkannya, ada sebuah hadist yang berkata ia jalan yang lebih tajam dari mata pedang, membuatku bertanya tanya dulu, jalan apa itu? Mana ada jalan yang lebih sempit dari mata pedang?”

Hingga suatu saat, aku menemukan sebuah peribahasa zen yang lucunya…

Pas begitu saja! Bunyinya, “ The now, is the narrow way between the past and the future. So narrow even compared to the eye of the sword”

Saat itulah aku menyadari, bahwa jalan di sini tidak lain dari jalan di antara dua kutub. Jalan di antara dua ekstrim, seperti angka nol di tengah tengah plus dan minus. Yang satu di tengah tengah dualitas, Yang tak terkatakan dalam bahasa yang saling berpasang pasangan. Jika plus, bisa eksis karena ada minus, maka nol berdiri sendiri. Ketiadaan..onelesss..”

Gadis itu diam seribu bahasa, titik keringatnya meleleh..

” The way of peaceful. Jika dalam gasing umpamanya semuanya berputar, maka hanya ada satu titik yang diam: Titik pusat. Hanya dalam titik itulah, titik nol di tengah tengah putaran dualitas kita dapat beristirahat”

” Not the way of those you gave wrath, nor of those who where evil. Untuk keluar dari titik nol di pusat itu, adalah untuk terseret ke dalam pusaran gasing yang serba berubah. Penuh derita, penuh evil untuk mengatasinya, dan ‘terkutuk”, karena hanya di dunia dualitaslah kutukan dan penghakiman dapat terjadi”

“ super” seru gadis itu takjub.

’ amin”

Titik balik


Frend, beberapa hari yang lalu aku bertemu seseorang di tepi bengawan solo saat ingin memancing bersama menthek, sobatku yang doyan memancing. Dia Seorang aktivis lingkungan, bule berkewarganegaraan Belanda. Dan dia sedang meneliti sampel kandungan air bengawan solo yang terindikasikan mengandung logam berat dan timbal. Suatu hal yang sangat jarang aku jumpai dan ini kesempatan emas untuk sekedar bertanya tanya tentang banyak hal. Aku bertanya padanya tentang kesan kesan saat di Indonesia, hal hal ringan seputar perjalanannya, sampai hal hal yang tak logis. Ternyata dia masih menjadi mahasiswa teknik tingkat dua di jurusan teknik lingkungan.

“ wait wait sir, so..jadi maksudmu, kamu lebih memilih menolak membeli baju POLO shirt meskipun itu yang termurah di pasar? kamu akan menolak masuk perusahaan EXXON Mobile meskipun mereka memberimu gaji paling tinggi? Kamu lebih memilih menolak kereta DB yang seharga 100 EURO dibandingkan pesawat Fly emirates yang Cuma 28 Euro? Dan kamu lebih mendukung negaramu yang berinvestasi pada kincir kincir angin daripada sumber energi lain yang dapat lebih menghasilkan bagi negaramu?”

“yups” jawabnya singkat sambil menikmati segelas es blewah yang kusodorkan.

”Bantu aku memahami semua keputusan yang nampaknya melawan ide ide pembangunan dan hukum ekonomi itu sir?” kejarku penasaran. Menthek sudah menghilang beberapa saat yang lalu, baginya selalu penting memastikan joran pancingnya agar mendapat ikan di tempat yang bagus.

” Well, kami tidak harus membangun lagi, we are developed.. bagi kami, kini saatnya menghentikan dan membereskan segala asap polusi yang sudah kami keluarkan dari segala kegiatan dulu”

Aku menelan ludah. “ hemm, kasihan saja rasanya mengingat bangsaku yang mati matian mencapai kejayaan kalian, hanya untuk menemukan bahwa kalian berhenti, berbalik begitu saja setelah mencapainya. Haruskah kita menghalangi perusahaan minyak sumber jutaan dollar bagi negara kami, hanya karena ia mengeksploitasi lingkungan?haruskah aku lebih memilih kereta DB mahal itu hanya karena semua jaringannya menggunakan listrik?Haruskah kita tidak membeli POLO shirt yang paling murah di pasar karena ia hasil eksploitasi buruh murah negara dunia ketiga? Bagi seorang yang masih developing, prinsip “terbesar untuk pengeluaran terkecil” masih berlaku.”

Dia hanya tersenyum simpul, dari balik kacamata beningnya, ia berujar, “ kami tidak berbalik atau berhenti, kami hanya menyadari bahwa pertumbuhan hanya dapat berlanjut jika kita memperhitungkan segala sisi. Tentunya terserah masing masing jika ingin memikirkan keuntungan tersendiri. Hanya sialnya, kita semua saling berkaitan. Dan tidak ada pertumbuhan sesungguhnya sebelum kita menyadari bahwa kita semua saling berhubungan”

Ia duduk di tepian, menerawang jauh ke utara, pucuk pegunungan kendeng di tuban hanya terlihat membiru.” Tinggal tunggu kerusuhan kerusuhan di negara dunia ketiga jika kita, negara negara kaya terus mengeksploitasi mereka. Tinggal tunggu beberapa pulau tenggelam jika kita terus menggunakan BBM tanpa perhitungan. Tinggal tunggu kota kota banjir jika hutan terus menerus digunduli tanpa perasaan. Seberapa banyakpun jutaan dollar yang mereka hasilkan pada awalnya…

Hemm, aku tidak “menerima” mahasiswa yang dua tahun masih muda dibawahku dapat berfikir sejauh itu. Benar benar mengesankan.

Nasi Pecel mak rah…

“Aku memasak untuk orang yang ada di meja makan, seperti di rumah, bukan memasak karena sedang jualan. Warung yang paling baik adalah seperti meja makan sendiri, dan masakan yang paling enak adalah masakan ibu di rumah” filosofinya dengan centong mengayun ayun di tangan.

“Memang, bagaimana bedanya mbah?” kataku sambil mengunyah ngunyah nasi, penasaran dengan kepribadian seorang wanita tua sederhana yang menjajakan nasi di depan koramil desa purwosari setiap pagi menjelang jam tujuh pagi. Mak rah namanya.

Beliau berpikir sejenak sambil memincuk daun, menuangkan nasi yang masih mengepul ngepul dari pengaron, sementara beberapa pembeli sudah mengerubunginya. “Wis mbuh lah le, memasak di rumah adalah aktifitas yang masih murni, Memasak seperti sebuah hobi, klangenan, dilakukan demi kegiatan itu sendiri. Seperti nongkrong berjam jam di warung kopi tiga dara langgananmu, seperti bermain bola setiap harinya, memainkan musik, mendengarkan tayub mbah Jo, mancing…Kegiatan kegiatan yang kadang menyita waktu dan menguras uang, tapi bagaimanapun memuaskan hati.”

Ia menyerahkan buntalan nasi pecelnya yang berdaun jati pada seorang pembeli, cekatan dan santun.

” apa mbah melakukan itu hanya untuk membuatku terkesan?”

”Oh tentu, ”dia terkekeh, dan jikalau kemudian orang orang yang kamu cintai, keluarga keluargamu, teman teman memakan nasi masakanmu” lanjutnya,

”Memasak segera menjadi kegiatan memberi yang paling membahagiakan. Orang bilang manusia itu gemar memperoleh, padahal sebetulnya, kita bahagia karena memberi - sudah dari sononya. Dan memasak, adalah bentuk memberi yang paling sederhana dan sangat mudah.”

Obrolanku terhenti sebentar, oh ternyata cucu cucunya mak rah banyak, meminta uang sangu untuk berangkat ke sekolah. Beberapa dari mereka sudah mengambil jatahnya, nasi pecel. Dan beliau dengan sabar melayaninya.

Aku segera teringat satu hal, terkadang, di negeri kita, pembicaraan pembicaraan ”penting” yang selama ini terjadi tidak lain juga pada saat makan.

”Berapa semuanya mbah? Aku telah menyelesaikan sisa nasi terakhirku beberapa detik kemudian, dan keponakanku devi juga telah menerima pesanannya.

” Tiga ribu rupiah saja mas” ujarnya.

”Matursuwun” pungkasku, segera kutarik setang sepeda dan devi yang tergesa gesa naik boncengan di belakang.

” Eh dev, hayoo, kenapa selama ini kamu tidak suka memasak” godaku.

” Entahlah mas, tapi aku selalu menganggap memasak adalah sebuah bentuk penjajahan pria terhadap wanita” jawabnya nyengir.....

Dasar devi...!!

Di bawah kibaran bendera


Aku berdiri di depan lapangan bina pemuda II sambong saat sore menjelang. Hari itu aku ingin menjalani rutinitasku sehari hari, bermain sepakbola., tapi lapangan dipakai upacara agustusan dan suasana hiruk pikuk sedang ramai ramainya berlangsung. Beberapa anak SMK Negeri Purwosari berjejer meneduh di kerindangan pohon kersen. Di pinggirnya, tiang pancang bendera merah putih berkibaran..angin berhembus kencang…

“Lihat, Bendera bergerak,” kata seorang diantaranya.

” Goblok kamu, Yang bergerak angin, bukan Bendera” balas Murid lain.

Murid pertama tersinggung.

”Bendera”

”Angin”

”Bendera”

Berada pada situasi itu serasa mengirimkanku ke dunia lain, dan mendengar pembicaraan keduanya, aku tersenyum...

Segala sesuatunya terasa cair....

”Absurd...”

Seorang temanku melatih lemparan bolanya di beranda warung pak kamitua, bosan menunggu kerumunan itu segera berlalu, dan berharap segera memakai lapangan.

Tiba tiba dalam bayanganku bola yang dilempar ke atas itu melayang, terapung apung di udara...

Menari nari...

Bayangkan aku terapung apung dalam sebuah ruang kosong hitam pekat; tanpa udara; beku;tanpa debu, tanpa planet. Kosong layaknya langit hitam di atas sana.

Tiba tiba seorang astronout muncul di depan.mendekat ke arahku.

Tapi siapa bisa tahu jika dia yang mendekat?

Muncul lagi seorang astronout kedua disampingku, diam, mengatakan bahwa akulah yang bergerak.

Tapi siapa juga yang tahu jika astronot kedua itu memang diam, sehingga bisa berkata siapa mendekati siapa?

Siapa bisa bilang siapa mendekati siapa?pada hakikatnya?

Karena kita hanya bisa mengatakan bahwa sesuatu bergerak menurut titik referensi mana.

Relatif....

” Kebenaran bergantung pada siapa yang melihatnya”

Dan untuk mengatakan segalanya relatif, berarti mengatakan segalanya related.

Aku bergerak, karena ada astronot kedua yang diam. Temperatur dua derajat ada karena ada yang disebut 10 derajat.

Berpasang pasangan.

Bahkan balok balok materi newton yang dulu konon paling mutlak berdiri sendiri, pun sebenarnya ”tidak ada”

Segala yang kita lihat di depan kita sebenarnya tidak ada...

” karena yang kita sebut massa adalah sebetulnya 99,99% kosong. Energi” kata einstein saat menemukan E = MC2

Serba mengalir dan serba berubah. Seperti ide.

Dan serba bertautan, karena energi tersebut hanya satu, seperti kata guru SMP kita dulu, energi panas hanyalah energi gesekan yang berubah bentuk.

Dan energi dari dulu sama dan tak pernah berubah, tak tercipta maupun tak pernah musnah....

Yang bergerak pikiran” kataku melerai dan mendamaikan dua anak tadi.....