Selasa, 20 Januari 2009

Belajar kearifan budaya lokal dari seorang Mbah Jo

Suatu siang yang panas, kira kira jam dua belas, iseng aku menyalakan radio dual band, kemerosok timbul tenggelam frekuensinya. Berhenti pada gelombang 95,8 radio MULIA FM, kenop radio tunerku berhenti kuputar. Irama gending tayub langsung mengalun menyeruak menerabas sekat dinding kamarku. Lembut, dan enak didengar ditelinga.

”Jam rolas tekan jam loro....wayahe....” lantunan kata kata khas itu selalu ditunggu tunggu penggemar berat tayub mbah Jo. Suatu komunitas pecinta lagu etnik tayub yang tersebar di sepanjang lingkup desa purwosari dan sekitarnya. Bagi kami, mbah Jo adalah seorang fenomenal. Hampir tiap rumah yang mempunyai ruang dengar, warung warung kopi, pangkalan ojek, depot nasi, bahkan kantor kantor instansi pemerintahan sejenak dipenuhi suaranya yang tenang, teduh santun namun punya daya pikat menarik. Semua terpukau dan terpusat pada satu titik setiap siang. Dialah mbah Jo, sang maestro seniman satu satunya yang dimiliki purwosari. Setidak tidaknyanya, Dialah sosok yang masih eksis sampai sekarang sebagai juru kunci budaya lokal purwosari yang hampir dilupakan, TAYUB.

Sejarah asal mula tayub, sama tuanya dengan sejarah itu sendiri. Langgam atau langen khas jawa timur dan jawa tengah ini dinyanyikan dengan perangkat gamelan, kendang, gong dipadukan dengan ketukan ketukan khas dan berirama pelan. Di beberapa tempat seperti di banyumas, tayub dimainkan menggunakan seperangkat alat musik yang terbuat dari bambu, akrab disebut calung. Dalam setiap pementasan tayub, ronggeng atau seorang penari dalam pementasan memainkan peran sentral disini. Dengan dandanan khas, berkalungkan selendang, penari atau ronggeng harus bisa menarik perhatian pengunjung untuk nyawer. Saweran yang dimaksud adalah uang yang diberikan pada saat sang pengunjung menandak atau menari. Besar kecilnya saweran, bergantung pada kelihaian sang ronggeng dalam memikat, menarik perhatian dan memainkan lakonnya. Cara membuang sampur, keluwesan gerak tubuh, dipadukan suara yang merdu adalah nilai plusnya.

Pertunjukan tayub sendiri Bisa sangat mudah dijumpai pada prosesi prosesi adat seperti pernikahan, sunatan, atau hajatan hajatan lainnya. Di sebagian tempat, menanggap (mempertunjukkan) tayub bisa menjadi perlambang hegemoni seberapa kaya kah orang itu, meningkatkan privilage atau derajat status sosial dan gengsi seseorang.

Frend, Di purwosari, sebenarnya budaya tayuban sudah mulai jarang dipentaskan, itupun dikarenakan desakan arus budaya barat dan modernisasi yang menggerus setiap sendi sendi kehidupan tak bisa dibendung lagi.

Ditengah kekalutan itu, ditengah segala macam pro kontra akan tayub, tampillah di tengah arena, seorang lelaki tua yang mendedikasikan keahliannya meracik langen, dialog dialog ringan seputar kehidupan sehari hari, dan yang paling ditunggu tunggu, pembacaan permintaan lagu dan penyebutan nama orang yang meminta lagu tayub itu sendiri lewat radio.

Gaya bicaranya kalem, namun kadang mengejutkan apabila pada saatnya ada dialog yang mengharuskannya berteriak lantang. Mbah Jo, atau Djajus Pete, seniman kawakan yang kondang di jawa. Penerima Rancage award dalam bukunya yang berjudul kreteg emas, jurang gupit ini begitu pandai memainkan lakonnya. Ada suatu kritik sosial yang meluncur deras dalam setiap untaian kata katanya, kadang samar dan tersembunyi, namun terkadang jelas menohok, pesan yang tak tersampaikan pada sang penguasa kebijakan, keresahan keresahan, kesulitan kesulitan hidup sehari hari wong cilik, bisa dituangkan dalam monolog yang penuh nuansa kocak nan menghibur serta bertabur metafora metafora atau bahasa kiasan.

Beliau langsung membidik pusat syaraf kesadaran kita di putarannya yang terdalam, bahwa untuk menjadi seseorang yang bisa berarti atau mempunyai brand image yang kuat, tak perlu menjadi seorang yang menipu diri sendiri. Menjadi orang lain. Bahwa apapun jenis profesinya, serendah apapun martabat orang itu, asalkan dia bersinggungan dengan dua macam hal, tayub dan mbah Jo, tak perlu menjadi Lurah atau Carik untuk bisa terkenal di kolong desa ini. Kita seperti disadarkan bahwa apapun jenis profesinya, kita harus menghargainya. Hanya satu hal yang menjadi puncak kebanggaan itu, yakni bersyukur dan menjalankan profesi itu sebaik baiknya.

Mbah Jo piawai dalam membuat gengsi seorang yang biasa biasa saja, menjadi orang dengan spesifikasi brand image yang kuat serta menjadi pergunjingan orang orang. Tengoklah ratini, Seorang penjual sayur keliling biasa. Di kalangan umum, mungkin orang asing akan namanya jikalau dia tidak rajin mengirim Request. Dengan aksentuasi yang hebat, pengucapan ratini, ratini, raaaaaatiiiniiiiii..sebanyak tiga kali selalu menjadi hal yang diingat pendengar setianya. Tak aneh bila di los los pasar, di area pertambangan, di sawah, orang pasti akan tahu siapa ratini itu.”ohh, ratini mbah jo?”. Orang orang yang tak pernah bertatapan langsung dengannya pun akan segera Mafhum apabila ada orang yang menunjuk sosoknya saat berjualan. Dan dia bangga, bangga dengan hanya berprofesi sebagai tukang sayur keliling, derajatnya bisa disetarakan dengan seorang Lurah mengingat sebegitu seringnya namanya disebut.

Suatu value (nilai), apalagi yang bersinggungan dengan martabat seseorang adalah hal yang sangat sensitif di sini. Ada kecenderungan pandangan minor yang ditujukan pada profesi tertentu, ini menimpa pada wiji. Seorang penjual kopi. Atau lebih tepatnya penjaja kopi di warung dekat jembatan sungai prudung . Di usia yang sebegitu muda, ia sudah harus mencari nafkah dengan menjual kopi dan menjadi rondo (janda) pada usia sembilan belas tahun pula. Nah ditangan seorang seniman, kegetiran hidup seseorang bisa diolah menjadi daya tarik yang memikat. Bagaimana orang dengan berduyun duyun datang dan pergi silih berganti memenuhi warung kecilnya yang letaknya tersembunyi dibawah jembatan hanya karena ajakan mbah Jo untuk sejenak mampir menikmati kopi, jampi sayah. ”Warung Mbak wiji, jurang jero, kulone jembatan, Janda umur songolas, ndandekke ati deg deg..plas..

Tak hanya itu, mbah Jo bisa menyampaikan bahasa iklan yang pasti langsung disukai pendengarnya seolah olah kita bisa merasakan hebatnya produk yang ditawarkan, semisal, ”nek gak nyruput wedange kopi mbak mut, cekooottt cekoootttt, disruput pisan, mripate pendoloooo, pendoloooo.... ”

Tak jarang, kritikan pedas langsung beliau luncurkan pada saat mengambil kiasan seorang yang kaya raya, pemilik perusahan pertambangan pasir. Begitu kayanya sampai sampai sang juragan tidak terbatas kekuasaanya dalam menguasai wilayahnya serta anak buahnya. ”Pemilik PT BAYAN PERSERO, DIKTATOR SING OTORITER....” Dalam menyikapi hal ini, beliau lugas, tajam dan langsung pada intinya, sebuah kritik kepada penguasa yang lupa akan kesejahteraan kawula alit karena bergelimang kekuasaan.

Kata kata sugestif dari seorang Mbah Jo itu tak melulu meluncur begitu saja dari mulutnya dan spontanitas belaka. Hanya orang dengan spesifikasi tertentu dan telah makan asam garam kehidupanlah yang bisa merangkainya. Ajaib bangeettss, Suatu hasil dari perenungan yang panjang, dalam, dan lelaku bathin guna memahami hakikat diri sebagai satu kesatuan prinsip kesederhanaan, bahwa hidup haruslah dijalani apa adanya, dijunjung erat dan telah melahirkan sebuah mahakarya nan fenomenal dari sudut yang tak terfikirkan. Mbah Jo adalah seniman yang mempunya indera mata batin yang bisa menangkap hal hal kecil, remeh temeh menjadi suatu kekuatan besar semangat dan inspirasi yang bisa memberikan pencerahan bagi setiap orang disekitarnya. Dia mampu menuntun aku, menjadi seorang yang mempunyai keteguhan dalam menghargai nilai nilai kearifan budaya lokal sebagai prinsip hidup yang selaras dengan yang diinginkan oleh sang Penguasa tanpa batas. Mbah Jo is The best Lah pokoknya..!!!

Teman, ironis memang, zaman memang selalu bergerak maju, manusia manusia juga lebih dituntut untuk menyesuaikan diri dengan peradaban baru. Budaya metropop yang berujung pada gaya hidup konsumtif hedonis menjajah kita. Jakarta sebagai pintu utama masuknya budaya asing tak mampu memainkan perannya sebagai penjaga pintu gerbang utama budaya timur. Semua yang berbau ke-tradisionalitas-an selalu menimbulkan suatu pandangan pandangan yang lekat dengan citra kuno, jadul, ndeso dan udik. Well, okelah.. Kita hentikan topik ini, aku juga sebenernya ndak mau dibilang ndeso, Hehehe...aku juga masih menikmati MTV dan makan di gerai KFC..hihihi...peace..

Namun apakah dengan melupakan tradisi adiluhung ini, apakah dengan asingnya tayub di telinga kita, apakah dengan tercerabutnya landmark warisan nenek moyang kita, inilah jawaban atas pencarian pencarian identitas ke”aku”an kita? Kita yang seolah olah malu mengakuinya sebagai anak sah kita sendiri, menepikannya dan menaruhnya dalam kotak memori nan usang dan segera dilupakan.

Aku bercermin dan menjumpai diriku yang ada di kaca membantahnya,”Setiap tradisi sedapatnya dibiarkan berekspresi sendiri sendiri. Karena selain tradisi merupakan pengetahuan turun temurun yang membekali keselamatan kita di atas bumi, fisik maupun psikis, meskipun tradisi sebenarnya juga sumber keragaman yang kaya, semacam akar identitas yang membedakan kita dengan yang lain, namun biarkan dia bertransform dengan nilai nilai lain diluar sana”

Aku membantah bayanganku, ”tapi jika tradisi dibiarkan tercampur baur, bagaimana kita dapat mencapai titik temu untuk meminimalkan benturan konflik?”

”Tradisi tradisi itu harus membuka diri” lanjutnya, sebagaimana budaya, yang tidak pernah menutup diri pada input dunia nyata tentang whats work, apa itu kerja. Bahayanya sebuah tradisi yang melembaga, adalah ketika sebuah tradisi menutup diri, sehingga tidak ada lagi kaca benggala dari dunia nyata. Membuat tradisi menjadi kaku, dan melahirkan totaliter yang membuat anak anak muda enggan meliriknya”

Aku tak mau kalah, ”Tergantung dari mental..semuanya itu mental yang berbicara, Harus ada perubahan drastis dalam lingkup mental. Yang membuatku sebagai wong purwosari, merasa ada dirumah sendiri adalah karena komitmen seumur hidupku tidak akan meninggalkan set of mind alias akar muasal.”

”Koeksistensi yang kumaksudkan disini, hanya dapat bermula jika set of mind kita universalitas yang bermuara ke lokalitas, bukannya lokalitas yang melulu berteiak teriak merasa tidak dihargai oleh nilai nilai universalitas” ujarnya sengit. Perdebatan yang panjang dan berlarut larut. Hehehe...

Sejarah masa kini, tak terlepas dari bentukan sejarah masa lampau. Kejadian kejadian masa lalu, adalah pembentuk kepingan kepingan sejarah saat ini dan waktu yang akan membawa kita menjadi bagian yang juga akan tercatat sebagai sejarah untuk membentuk sejarah sejarah baru nantinya. Beranikah kita merubah sejarah kita yang telah berbalik arah? Meminjam istilah pramoedya ananta toer, masihkah arus balik, berbalik lagi?

Tanah air kita yang sempit ini, desa Purwosari, selamanya akan bertumpu pada satu kegelisahan, masihkah ada harapan? Kita hanya akan bisa menunggu saat saat itu, saat saat kearifan budaya lokal ini pelan pelan hancur meninggalkan puing puing dan hanya menjadi penghias mimpi sebagai dongeng pengantar tidur anak cucu kita. Dan kita akan terus menunggu, menunggu dan menunggu. Apakah akan lahir seorang mbah Jo baru sebagai penerus tongkat estafet kebudayaan Tayub kita? Suatu paradoksial teramat klise yang sampai saat ini belum bisa dicari jalan keluar riil nya. Ce ileeee..semangat yah mbah Jo..!

Buat temen temen, ditunggu comment Dan emailnya. Nantikan pembahasan topik topik kita selanjutnya seputar desa tercinta.

1 komentar: