Selasa, 20 Januari 2009

Sekali malam di warung kopi tiga dara part 2

Malam di warung tiga dara, nita –salah satu dari pelayan warung-menyodori pesanan patenku, secangkir kopi tubruk. Pandanganku tertuju pada orang yang sama saat berbincang di malam gerimis itu. Kutepuk pundaknya pelan, menoleh lalu dia terpaku, seperti mengingat potongan potongan pembicaraanku dengannya beberapa hari yang lalu.

”aku nggak percaya ama Tuhan” katanya sambil menyeruput kopinya. ”Karena begini menurutku bergulirnya mitos tentang Tuhan itu,

Lanjutnya, ” Manusia manusia menisbahkan kata Tuhan pada apa pun yang misterius baginya. Dulu ia gunung gunung tertinggi, atau laut terdalam. Kemudian ia badai yang maha dahsyat, hingga kini, manusia sadar bahwa badai itu hanyalah perbedaan suhu dan tekanan udara antarwilayah”

”Penisbahan itu terus berlangsung sepanjang sejarah; hingga kini manusia berkata bahwa ’pokoknya ada sesuatu diatas sana’, tidak jelas apa tapi pokoknya ada!”. Seolah kini ia menjadi sekedar konsep saja dalam kepala mereka dinamai Tuhan, berdoa pun seperti berbicara dengan diri sendiri..”

Aku menyimak dengan serius..kuhisap dalam dalam rokok Pamor yang tinggal sepertiga itu. ”Mereka tidak dapat menerima, bahwa pada akhirnya, segalanya akan dapat dijelaskan. Tidak ada lagi yang dapat kita namai Tuhan.”

”Tidak ada lagi yang dapat kita namai Tuhan?”gumamku..sebuah pemilihan kata yang menarik. Mengapa kita harus menamai?”

Dia seolah bertanya tanya dalam hati, diam.

”Maksudku, cangkir ini dapat kunamai cangkir karena pikiranku dapat mengenali hal hal lain yang bukan cangkir. Saat kau bilang bahwa pada akhirnya segalanya non Tuhan, maka secara implisit kamu bilang bahwa ada sesuatu bernama Tuhan. Karena

-logika sederhana-haruskah ada kata tuhan jika segalanya Tuhan? Akankah ada yang dinamakan cangkir kopi jika seluruh alam semesta ini cangkir kopi?”

Beberapa waktu, hening. Beberapa teman akrabku datang dari depan, di pinggangnya, terjulur kain sarung yang di gulung, mungkin selesai ngaji di langgar.

Dia memecah keheningan, sudut matanya berkerut kerut, seolah sedang memikirkan semua pendapatku ”hehehe”...terkekeh sambil mengaduk cangkir kopinya.

” Dimana pertanyaan sesungguhnya, bukanlah apakah tuhan itu ada atau tidak, melainkan, siapakah yang sedang bertanya ini? Apa yang terjadi jika segala permainan keinginan ini berhenti? Apa yang ada dibalik penamaan cangkir dan non cangkir? Apa yang terjadi jika segala pemikiran ini diam, tidak berbicara, tidak memercayai atau menolak sesuatu?” sanggahku padanya.

Dia semakin tercekat, lalu, dia seperti menyusun kembali kepercayaan dirinya,” Hal yang terbaik dalam hidup adalah menjalani kebebasan” ia Menatapku,

” bagaimana kamu bisa hidup dalam aturan aturan agama?”

” okelah, memangnya, apa definisimu tentang kebebasan?” sergahku.

”Kebebasan adalah jika kamu dapat melakukan apapun yang kamu inginkan, kapanpun kamu mau, dimanapun kamu berada ”

” Oh, begitu? Lalu, apa yang kamu lakukan jika keinginanmu tidak terpenuhi? yang biasanya terjadi dalam hidup? Tanyaku lagi.

” Emmff, itu sungguh sungguh bangsat, tapi yaaa, biarlah..kita kan bisa mengejar hal hal lainnya lagi”

” terus begitu?” kejarku.

” Ya, terus begitu!”

” hemm, seperti terdengar berkejar kejaran tidak berujung. Kita tidak akan sepenuhnya bebas selama membutuhkan sesuatu, bukankah begitu?” sengatku.

” kamu seperti kiyai yang mengharamkan makan babi atau keinginan keinginan manusia, padahal gairah adalah bensin dalam hidup, dan tidak ada yang salah dengannya bukan?.”

” hehehe, iya juga sih cuii, kegiatan menginginkan adalah kegiatan yang menyenangkan, aku setuju, tapi membutuhkan sesuatu, tercekik olehnya, seolah sesuatu itu tidak kita miliki, atau dapat hilang sewaktu waktu –serta merasa dunia runtuh saat sesuatu itu akhirnya lepas tidak terlalu menyenangkan mendengarnya kan?” aku tertawa.

” Itulah susahnya menjadi seseorang, dapat memiliki dan kehilangan sesuatu ” ujarku kemudian. ” yang diajarkan agama agama itu sebenarnya agar kita memperluas diri sehingga jika kita memberi sesuatu kepada orang lain misalnya, kita tidak merasa kehilangan karena ” bagian diri kita yang lain alias orang lain mendapatkannya. Hidup pun menjadi lebih mudah, karena kita jadi sadar, bahwa sesuai kodrati, segala apa yang datang itu pasti akan pergi, segala sesuatunya, pasti akan datang dan pergi lagi..

Dia membalas, ” ya, ya, itu kan dari tataran filsafat dan kata katamu, tapi kamu pasti tahu benar yang kumaksud dari awal , bahwa sederhana, kita bisa bebas ngapain aja, yang jelas jelas tidak disetujui agama”

Aku menerobos celah matanya, berusaha mencari ke mana arah pembicaraannya.” kenapa kamu ’harus bebas ngapain aja?siapa yang pertamakali meletakkanmu..”

Dia memotongku dengan cepat, ” kamu tidak harus memeluk suatu agama jika tidak merasakan manfaatnya, tapi kamu juga tidak harus mati matian membela kebebasan, ide akan kebebasan juga sebuah penjara!”

”Sebagaimana juga agama!”

Sebagaimana juga agama? Hemm, okelah bos, tapi kini, tidak ada alasan untuk keluar dari satu penjara masuk ke penjara lainnya bukan?, sama saja artinya tidak ada alasan bagi kita untuk bertindak bodoh dengan mengumpankan diri pada saat dalam mulut buaya, lalu lepas kita masuk mulut singa lagi?”

” hahaha, baiklah” dia menggeleng geleng, ”aku tidak akan menjadi pembawa misi kebebasan jika kamu juga tidak menjadi pembawa misi agama” ungkapnya menyerah.

Cangkirku hampir kosong, begitu pula dengannya, seolah olah semuanya telah lunas. Beberapa kali ia menepuk nepuk pundakku untuk sesaat kemudian membayar kopinya pada nita, lalu hilang bersama deru asap knalpot motornya ke arah pertigaan tobo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar