Warung khas ini bernuansa hangat, dapat kalian jumpai di korgan utara, persis berjarak hanya beberapa rumah dari selatan pesarean mbah gerit. sederhana namun sarat keakraban. Tempat aku dan beberapa teman menghabiskan malam, menyusuri eksotisme malam. Aku berbincang dengan seseorang yang menghadapi secangkir kopi didepan teras menggelar tikar lusuh, dan rokok yang tak berhenti mengepul ngepul dari mulutnya...
Hal yang sama sepertinya aku rasakan saat mencoba segelas penuh wedang jahe, ”terasa seperti ada getaran halus nan hangat menjalar”, responku padanya.
Gerimis tiba tiba tumpah, dia sepertinya tergesa gesa ingin segera pulang. dia merapat pada dinding reyot..mengajakku berteduh Sambil menunggu hujan reda, perbincangan segera mengalir...dia mengajakku membahas kekuatan dongeng, mengikuti penuturannya tentang diri sendiri.
”Dongeng Dongeng memiliki kekuatan untuk mengantar manusia ke dimensi yang lebih tinggi” Jelasnya.
”Bahkan bisa dibilang, hanya dongeng atau metaforalah yang dapat melakukannya, karena dimensi tersebut seringkali sesuatu yang tak terdefinisikan.”
”Hmm” aku menggumam..
”Seperti warna, Bagaimana kamu dapat mendefinisikan warna biru pada seseorang?” lanjutnya. ”Atau jahe hangat tadi, hangat menjalari tenggorokanmu katamu, pengalaman kita sama. Seperti juga catatan catatan legenda seorang mbah gerit yang sering kalian dengar? Bagaimana kamu dapat menjelaskan sesuatu yang belum kalian atau tidak kalian alami pada waktu itu kepada orang yang kebetulan kamu temui di jalan tadi? Pengalaman itulah yang terdefinisikan berbeda tergantung pada budaya dan latar belakang orang, yang berusaha dilahirkan kembali, berusaha agar dapat terasa oleh orang orang melalui metafora”
”Itu mengingatkanku pada kisah seorang sufi, dia bilang ada dua jalan menuju hati. Satu, mencapainya dari ritual ritual luar. Kedua, mencapainya dulu, baru ekspresi luarnya pun akan selaras dengan sendirinya” aku menjawab.
”Ya, sayangnya jalan pertama sering kali menimbulkan masalah hingga hari ini. Ritual ritual itu mandek menjadi sebuah identitas, kebanggaan, dan sebagainya, sesuatu yang bisa dipertentangkan dan dikompetisikan dengan ritual ritual lain. Kita tidak lagi mementingkan apa yang dirasakan hati para utusan tersebut ketika melahirkan ayat ayat kitab suci itu, karena yang penting kini hanyalah jika kita bisa bergerak persis sama dengan mereka”
”Jadi, selama ini kamu tidak pernah sholat?” Ujarku.
”Aku tidak meninggalkan sholat, apalagi melupakan masjid, karena aku tak berniat meninggalkan pengalaman pengalaman yang aku rasakan ketika membaca Alqur’an. Aku masih membutuhkan spiritnya, tetapi aku meninggalkan pemaksaan interprestasi literal yang sama persis bagi semua orang terhadapnya. Karena jalan dan ekspresi pada Tuhan tentunya berjuta juta”
”Seperti aku menyatakan secangkir kopi sama dengan segelas wedang jahe padahal aku belum pernah sekalipun menenggak wadang jahe itu.”tambahnya.
”Sehingga kamu lebih menyodorkan jalan kedua?” selidikku.
”Tidak, hanya sebuah pilihan, apakah kita menangis dulu baru sedih, atau sedih dulu baru menangis?” Jawabnya mengakhiri perbincangan malam itu karena gerimis telah reda...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
GuE saLUt SaMa KaRyA2 kAmoE...BanGga bUaNgeTs bRo..sEmaNgat TeYuz yow...tuK jd PenUliS HebAt..suCcess deCH Tuk KaMoE..(GrIsEldA cAh SaMboNg)..dari griselda.nirvana@gmail.com
BalasHapus