Selasa, 20 Januari 2009

Titik balik


Frend, beberapa hari yang lalu aku bertemu seseorang di tepi bengawan solo saat ingin memancing bersama menthek, sobatku yang doyan memancing. Dia Seorang aktivis lingkungan, bule berkewarganegaraan Belanda. Dan dia sedang meneliti sampel kandungan air bengawan solo yang terindikasikan mengandung logam berat dan timbal. Suatu hal yang sangat jarang aku jumpai dan ini kesempatan emas untuk sekedar bertanya tanya tentang banyak hal. Aku bertanya padanya tentang kesan kesan saat di Indonesia, hal hal ringan seputar perjalanannya, sampai hal hal yang tak logis. Ternyata dia masih menjadi mahasiswa teknik tingkat dua di jurusan teknik lingkungan.

“ wait wait sir, so..jadi maksudmu, kamu lebih memilih menolak membeli baju POLO shirt meskipun itu yang termurah di pasar? kamu akan menolak masuk perusahaan EXXON Mobile meskipun mereka memberimu gaji paling tinggi? Kamu lebih memilih menolak kereta DB yang seharga 100 EURO dibandingkan pesawat Fly emirates yang Cuma 28 Euro? Dan kamu lebih mendukung negaramu yang berinvestasi pada kincir kincir angin daripada sumber energi lain yang dapat lebih menghasilkan bagi negaramu?”

“yups” jawabnya singkat sambil menikmati segelas es blewah yang kusodorkan.

”Bantu aku memahami semua keputusan yang nampaknya melawan ide ide pembangunan dan hukum ekonomi itu sir?” kejarku penasaran. Menthek sudah menghilang beberapa saat yang lalu, baginya selalu penting memastikan joran pancingnya agar mendapat ikan di tempat yang bagus.

” Well, kami tidak harus membangun lagi, we are developed.. bagi kami, kini saatnya menghentikan dan membereskan segala asap polusi yang sudah kami keluarkan dari segala kegiatan dulu”

Aku menelan ludah. “ hemm, kasihan saja rasanya mengingat bangsaku yang mati matian mencapai kejayaan kalian, hanya untuk menemukan bahwa kalian berhenti, berbalik begitu saja setelah mencapainya. Haruskah kita menghalangi perusahaan minyak sumber jutaan dollar bagi negara kami, hanya karena ia mengeksploitasi lingkungan?haruskah aku lebih memilih kereta DB mahal itu hanya karena semua jaringannya menggunakan listrik?Haruskah kita tidak membeli POLO shirt yang paling murah di pasar karena ia hasil eksploitasi buruh murah negara dunia ketiga? Bagi seorang yang masih developing, prinsip “terbesar untuk pengeluaran terkecil” masih berlaku.”

Dia hanya tersenyum simpul, dari balik kacamata beningnya, ia berujar, “ kami tidak berbalik atau berhenti, kami hanya menyadari bahwa pertumbuhan hanya dapat berlanjut jika kita memperhitungkan segala sisi. Tentunya terserah masing masing jika ingin memikirkan keuntungan tersendiri. Hanya sialnya, kita semua saling berkaitan. Dan tidak ada pertumbuhan sesungguhnya sebelum kita menyadari bahwa kita semua saling berhubungan”

Ia duduk di tepian, menerawang jauh ke utara, pucuk pegunungan kendeng di tuban hanya terlihat membiru.” Tinggal tunggu kerusuhan kerusuhan di negara dunia ketiga jika kita, negara negara kaya terus mengeksploitasi mereka. Tinggal tunggu beberapa pulau tenggelam jika kita terus menggunakan BBM tanpa perhitungan. Tinggal tunggu kota kota banjir jika hutan terus menerus digunduli tanpa perasaan. Seberapa banyakpun jutaan dollar yang mereka hasilkan pada awalnya…

Hemm, aku tidak “menerima” mahasiswa yang dua tahun masih muda dibawahku dapat berfikir sejauh itu. Benar benar mengesankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar