Selasa, 20 Januari 2009

Di tepi bengawan...village of love


Guys..di tempat dan pemandangan seperti ini, enaknya memang pacaran..

Berjalan dan merasakan udara sore di tepi bengawan sisi utara desa kita sepanjang pinggirannya, angin sepoi sepoi membelah kerindangan pohon jati yang gemerisik hijau daunnya seolah bersenandung lagu lagu kedamaian. Sinar ufuk sore lembut menerpa kulit.

Sungai bengawan solo mengalir tenang, airnya coklat terasi, keruh. Membelah Pegunungan kendeng utara, merambat di sela sela kaki kaki bukit dan membawa berupa rupa sampah, eceng gondok, ampas manusia-cara dari bentuk penghormatan manusia manusia dalam memperlakukan sungai- atau apapun yang dapat di bawanya untuk diajak nun jauh ke hilir sana. Sementara deru mesin pengeruk pasir sedikit perbedaan. Agak bising di telinga.

Beberapa saat, pandangan mataku tertuju pada beberapa pasangan yang duduk duduk menatap jauh ke kebiruan bukit utara, mengobrol santai, sesekali tertawa kecil, atau berdiam diri, nostalgia saat mengenang saat saat indah bersama.

Ada juga yang senyum senyum sendiri membaca buku di bawah pohon jati, duduk ngeleter. Mengobrol seru dengan beberapa teman dekat, atau melamun memandang sungai, entah apa yang dipikirkan.

Aku memutuskan untuk duduk duduk di sebuah dahan waru yang hampir doyong menyentuh ujung permukaan sungai, menyerap suasana sebuah tempat dimana panah panah cupid seperti ditebarkan ke seluruh penjuru. Kabut romansa seakan akan menyelimuti denyut nadi setiap orang, bahkan tak hanya manusia, sepasang wallet pun bekejaran dengan suara yang riang, sementara perahu perahu malas tertambat di permainkan ombak kecil, sahut menyahut. Lama aku merenung. Aku belajar banyak hal tentang arti keindahan dibalik rusak parahnya ekosistem sungai legendaris ini. Keindahan dan keironisan dapat bersatu…dan aku menemukan kompleksitas semuanya dari hal yang sangat sederhana. Seperti sore itu.

Dari sebuah masa beribu ribu tahun yang lalu, ketika manusia masih begitu hormat, masih begitu sensitif dan masih begitu apresiatif terhadap keindahan keindahan sederhana seperti matari sore. Sebuah masa ketika harmoni dan keseimbangan dapat tercipta dengan mudah dan spontan dari dalam hati.

Bengawan solo mengalir dari zaman ke zaman bukanlah untuk sebuah riwayat keagungan yang didedikasikan untuk orang orang yang tidak mengerti cinta dan mengerti cinta sadarku.. melainkan sebagai pengingat akan sebuah zaman ketika kedua kutub itu pernah bersanding dengan seimbang dan harmonis.

Aku masih tak tahu mengapa perasaan ini campur aduk, yang jelas dan aku tahu tahu tersadar, perasaanku sudah haru biru, menyaksikan betapa ajaibnya suatu hal yang bernama cinta…

Ah cinta..dimana mana cinta…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar