Selasa, 20 Januari 2009

Nasi Pecel mak rah…

“Aku memasak untuk orang yang ada di meja makan, seperti di rumah, bukan memasak karena sedang jualan. Warung yang paling baik adalah seperti meja makan sendiri, dan masakan yang paling enak adalah masakan ibu di rumah” filosofinya dengan centong mengayun ayun di tangan.

“Memang, bagaimana bedanya mbah?” kataku sambil mengunyah ngunyah nasi, penasaran dengan kepribadian seorang wanita tua sederhana yang menjajakan nasi di depan koramil desa purwosari setiap pagi menjelang jam tujuh pagi. Mak rah namanya.

Beliau berpikir sejenak sambil memincuk daun, menuangkan nasi yang masih mengepul ngepul dari pengaron, sementara beberapa pembeli sudah mengerubunginya. “Wis mbuh lah le, memasak di rumah adalah aktifitas yang masih murni, Memasak seperti sebuah hobi, klangenan, dilakukan demi kegiatan itu sendiri. Seperti nongkrong berjam jam di warung kopi tiga dara langgananmu, seperti bermain bola setiap harinya, memainkan musik, mendengarkan tayub mbah Jo, mancing…Kegiatan kegiatan yang kadang menyita waktu dan menguras uang, tapi bagaimanapun memuaskan hati.”

Ia menyerahkan buntalan nasi pecelnya yang berdaun jati pada seorang pembeli, cekatan dan santun.

” apa mbah melakukan itu hanya untuk membuatku terkesan?”

”Oh tentu, ”dia terkekeh, dan jikalau kemudian orang orang yang kamu cintai, keluarga keluargamu, teman teman memakan nasi masakanmu” lanjutnya,

”Memasak segera menjadi kegiatan memberi yang paling membahagiakan. Orang bilang manusia itu gemar memperoleh, padahal sebetulnya, kita bahagia karena memberi - sudah dari sononya. Dan memasak, adalah bentuk memberi yang paling sederhana dan sangat mudah.”

Obrolanku terhenti sebentar, oh ternyata cucu cucunya mak rah banyak, meminta uang sangu untuk berangkat ke sekolah. Beberapa dari mereka sudah mengambil jatahnya, nasi pecel. Dan beliau dengan sabar melayaninya.

Aku segera teringat satu hal, terkadang, di negeri kita, pembicaraan pembicaraan ”penting” yang selama ini terjadi tidak lain juga pada saat makan.

”Berapa semuanya mbah? Aku telah menyelesaikan sisa nasi terakhirku beberapa detik kemudian, dan keponakanku devi juga telah menerima pesanannya.

” Tiga ribu rupiah saja mas” ujarnya.

”Matursuwun” pungkasku, segera kutarik setang sepeda dan devi yang tergesa gesa naik boncengan di belakang.

” Eh dev, hayoo, kenapa selama ini kamu tidak suka memasak” godaku.

” Entahlah mas, tapi aku selalu menganggap memasak adalah sebuah bentuk penjajahan pria terhadap wanita” jawabnya nyengir.....

Dasar devi...!!

1 komentar: