“
Ruang kedua dihuni oleh pengikut pengikutnya..”
Aku bercakap cakap dengannya, saat cangkruk di depan kios rokok bung tomo, seorang perempuan muda yang selalu menunggu bis atau angkot setiap habis kebaktian di gereja pantekosta purwosari. Saban minggu, wajah cantiknya dari menit ke menit hilir mudik di emper toko perempatan tobo. Di tangannya terselip injil.
”Dapatkah kamu mengajariku doa doamu? ” Tanyanya dalam sorot mata yang damai.
”yang mana?”
”Yang manapun kau rasakan sekarang...”
”Hmm..ada satu surat yang berulang ulang dalam setiap doa kami. Pembuka Alqur’an Al fatihah. Mau versi bahasa arabnya atau inggrisnya?”
” Inggris sajalah..”
Di tengah kerumunan orang orang yang mengangkut berkarung karung beras, klakson mobil yang dipencet serampangan, aneka polah tingkah ojek menawarkan jasanya......
” In the name of God, the most compassionate, the most living. Praise be to be a god, the lord of the universe. The most compassionate, the Most loving, Lord the end of the days”
“ The end of the days, apakah sama dengan yang kami yakini?”
‘ Ya, akhir dari waktu, saat kita semua “kembali”
Gadis itu tersenyum, memandang aspal di bawah kami seolah sedang berdoa.
” Lord that ways grants his servant’s wishes. Grand us..Shiratal Mustaqim”
‘ Shiratal?”
“ aku selalu susah menerjemahkannya, ada sebuah hadist yang berkata ia jalan yang lebih tajam dari mata pedang, membuatku bertanya tanya dulu, jalan apa itu? Mana ada jalan yang lebih sempit dari mata pedang?”
Hingga suatu saat, aku menemukan sebuah peribahasa zen yang lucunya…
Pas begitu saja! Bunyinya, “ The now, is the narrow way between the past and the future. So narrow even compared to the eye of the sword”
Saat itulah aku menyadari, bahwa jalan di sini tidak lain dari jalan di antara dua kutub. Jalan di antara dua ekstrim, seperti angka nol di tengah tengah plus dan minus. Yang satu di tengah tengah dualitas, Yang tak terkatakan dalam bahasa yang saling berpasang pasangan. Jika plus, bisa eksis karena ada minus, maka nol berdiri sendiri. Ketiadaan..onelesss..”
Gadis itu diam seribu bahasa, titik keringatnya meleleh..
” The way of peaceful. Jika dalam gasing umpamanya semuanya berputar, maka hanya ada satu titik yang diam: Titik pusat. Hanya dalam titik itulah, titik nol di tengah tengah putaran dualitas kita dapat beristirahat”
” Not the way of those you gave wrath, nor of those who where evil. Untuk keluar dari titik nol di pusat itu, adalah untuk terseret ke dalam pusaran gasing yang serba berubah. Penuh derita, penuh evil untuk mengatasinya, dan ‘terkutuk”, karena hanya di dunia dualitaslah kutukan dan penghakiman dapat terjadi”
“ super” seru gadis itu takjub.
’ amin”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar