Gelali pertamaku
Pernahkah kau memakannya kawan? Dulu, sewaktu aku masih kecil, hanya ada satu keceriaan yang kutunggu tunggu apabila hari itu tiba, manganan. Ya, saat manganan tiba, ada kuliner langka yang harusnya jangan dilewatkan. Namanya gelali, terbuat dari rendaman saripati gula merah lalu ditusuk lidi bambu bulat bulat sekepal terung lalapan yang bertabur kacang di setiap sisinya. kalian yang asli desa ini pasti tahu apa itu manganan, bagi yang belum tahu, baiklah, akan aku jelaskan, dulu konon kabarnya, seseorang bernama mbah gerit terkenal sangat sakti dan alim. Beliau adalah orang yang babad alas di desa ini, menebang pekatnya hutan, membuka pemukiman yang segera menarik orang orang untuk datang menghuninya.
Oleh karena beliau sangat bijak, dermawan, sampai sampai semua orang menganggapnya sebagai titisan dewa. Mbah gerit menjadi seorang guru bagi penduduk desa, namun dia adalah juga seorang pertapa biasa yang sangat sederhana. Dengan lelaku spiritualnya di bawah pokok beringin tua, beliau mengajarkan pentingnya dalam bertingkah laku sesuai norma, berpantang makanan yang haram, sampai urusan sosial kemasyarakatan. Dalam masa masa beliau menjalani tugasnya memangku desa purwosari ini, purwosari mencapai puncak kejayaan. Baik dalam tatanan sosial masyarakat, kemakmuran, keamanan dan kerukunan hidup terjaga. Istilahnya, gemah ripah loh jinawi. Semuanya hidup dalam ketenangan dan kesederhanaan. Sampai akhir hayatnya, jasa jasa beliau masih dikenang seluruh warga desa. Karena itulah, setiap tahun, sebagai wujud rasa terimakasih kepada ajaran beliau-tentunya selain penguasa tertinggi yaitu Tuhan- atas segala nikmat dan kelimpahan panen padi, warga se puak desa mengadakan ritual bersih desa yang akrab di sebut manganan (kegiatan me-makan). Waktunya, biasanya Jumat pon menurut penanggalan Jawa. Konon, hari itu adalah saat meninggalnya mbah gerit.
Saat selesai mengadakan ritual yang dipimpin oleh tetua, warga yang membawa nasi tumpeng beserta lauk pauknya didoakan, barulah warga desa dapat menikmati atau membagi bagikan berkat kepada sesama warga yang duduk mengelilingi berkat atau dalam istilahnya ngepung berkat. Dan pulang membawa berkat setelah terlebih dahulu ditukar dengan milik warga yang lain. Kalu ini, sifatnya adalah sukarela dan ikhlas, karena esensi manganan adalah memberi atau weweh.
Pesta belum berakhir, justru setelah itu, kira kira kemeriahan dimulai. Wayang yang telah di sewa atau ditanggap untuk menghibur warga dimulai saat selesai duhur, Biasanya, wayang yang ditanggap mengambil lakon lakon yang kerap di sukai mbah gerit semasa hidup. Konon pula, arwah mbah gerit di beringin tua yang diyakini adalah pesarean atau peristirahatannya turut melihatnya. Mungkin terbahak di kuburnya. Sebuah Kepercayaan yang turun temurun hingga saat ini.
Lazimnya pesta, setiap kemeriahan selalu menghadirkan interaksi sosial yang melibatkan banyak orang serta banyak uang yang berputar. Para penjual memanfaatkannya untuk menangguk rezeki. Bermacam macam penjual makanan seperti yang tradisional layaknya kusebut tadi, gelali, rujak, dan macam macam lagi sampai yang berbau ke kinian semacam jajan pasar, aneka mainan anak kecil berderet di kanan kiri arena yang disekat oleh pagar bambu yang dilabur gamping. Sementara yang muda asyik menikmati jajanan, golongan tua yang haus akan hiburan tradisional memilih duduk di sekitar terop, regeng gayeng dan serius menyimak wayang. Dan tertawa berderai derai saat babak goro goro (gurauan) berlangsung.
Dulu, semasa aku masih dipotong kuncung alias menyisakan sepetak rambut jambulku di depan, aku hanya tertarik pada satu hal, gelali. Buatku, menonton wayang adalah rutinitas tahunan yang menjemukan. Cenderung monoton karena bahasa yang disampaikan, bahasa jawa kawi, babonnya bahasa jawa dalam strata yang paling halus. Saat di depan, hanya beberapa menit saja mungkin aku bertahan. Kalu kupaksakan, ngantuk pastinya. Setelah itu, khasnya keceriaan anak kecil, pandanganku tertuju pada pada penjual mainan anak anak semacam sebulan (balon), kitiran dari kertas, berupa rupa lot lotan atau kacang tanah yang dijual perbungkus Cuma Rp 500. Sementara bagi yang haus, es setrup sumba merah bolehlah dicoba, manis namun jangan salahkan penjualnya jika perut melilit, karena biasanya air yang pakai, air mentah.
Beberapa temanku yang sudah agak besar memberanikan diri agak kebelakang layar. Rupa rupanya arena judi dadakan terhampar bak miniatur las vegas, orang hilir mudik mencoba peruntungannya dalam putaran erek erek (media judi yang berupa papan bundar berisi duabelas angka dengan jarum di titik pusat, biasanya bandar akan memutar poros setelah petaruh meletakkan koin ke dalam kertas angka berdigit satu sampai duabelas), judi dadu kopyok, Kartu remi juga tak kalah di semuti pengunjung. Kebanyakan memang para pemuda dan bapak bapak.
Aku berkeliling keliling dalam arena yang tak sebegitu luas itu, tangan kanan memegang gelali pertamaku, suatu sensasi aneh yang baru kutemui, penjualnya telah sebegitu kerepotan meladeni pembeli yang tertarik dengannya. Lengket sekali gelali itu, namun manis dilidah, saat kau gigit, mungkin kau akan meraskan kelembutan, kenikmatan tiada tara..coba deh...(bersambung)
Selasa, 20 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Halo kak, berarti Mbh Gerit agamanya Islam ya?
BalasHapus